Archive for March 12, 2008

If i die tomorrow

Liriknya gak rampung nih . Wakakak

I wake up to find myself
after all this years
and were all the time has gone
still seems so unclear
cause theres no one else
since i found you
i know its been so hard
you should know
if i die tomorrow
as the minutes fade away
i cant remember
have i said all i can say?
Youre my everything
you make me feel so alive
if i die tomorrow
its bring out the worst in me
when youre not around
i miss the sound of your voice
the silence seems so loud
cause theres no one else
since i found you
i know its been so hard
you should know
if i die tomorrow
i spent all my life
looking for our innocence
ive got nothing to loose
one thing to prove
i wont make the same mistakes
now i know
that everything will be ok
when i die tomorrow

Comments (1) »

Politik[ti]kus

A rat is still a rat.
Namanya juga tikus, so pasti rakus.
Majelis permusyawa[RAT]an rakyat. Dimana para tikus besar berdiskusi untuk mencapai MOVE..FUCKED…!! (baca: mufakat). Tulisan ini terkesan menggeneralisasi? .. Terserah deh.. Tapi aku memang pandang sama rata, biar dari PKS atawa GOLKAR sekalipun..
Toh ini wacana negri tikus kok.

Leave a comment »

The End of Faith (refleksi terbenamnya sebuah iman)

Aku Bersaksi Tidak Ada Tuhan Selain Darwin:
Serangan Balik Kaum Ateis

Luthfi Assyaukanie

Para pendukung Ateisme mestinya berterimakasih kepada Osama bin Laden
dan Jerry Falwell yang menjadikan agama begitu agresif dan garang.
Aksi-aksi kekerasan dan teror yang mengatasnamakan Tuhan sejak
beberapa tahun terakhir adalah puncak dari kebangkitan agama dan
sekaligus krisis bagi keberadaannya. Sejak awal tahun 1970an, kaum
Ateis dan sekular meratapi mandeknya proses sekularisasi. Agama yang
sejak abad ke-19 diramalkan bakal punah malah bangkit dan mengisi
ruang-ruang publik umat manusia. Kecuali di Eropa Barat, hampir semua
agama di dunia mengalami kebangkitannya. Jurnal-jurnal sosiologi
selama dasawarsa 1980an dipenuhi dengan perdebatan matinya sekularisme
(dan juga sekularisasi) .

August Comte, Charles Darwin, Sigmund Freud, Emile Durkheim, Karl
Marx, dan para ilmuwan sosial besar lainnya dianggap keliru karena
telah meramal bahwa masa depan umat manusia adalah masa depan sekular
yang bersih dari mitos-mitos agama. Kenyataannya, sejak 1970an, agama
bangkit dan tokoh-tokoh seperti Ayatullah Khomeini, Paus Yohannes
Paulus, Desmond Tutu, dan Dalai Lama, menggantikan nama-nama sekular
abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Kebangkitan agama telah memasuki dekade keempatnya ketika pada tanggal
11 September 2001, sekelompok kaum beriman menabrakkan dua pesawat
yang ditumpanginya ke gedung WTC di Amerika Serikat. Peristiwa yang
kemudian dikenal sebagai peristiwa 9/11 itu menjadi kulminasi bagi
kebangkitan agama di dunia modern dan sekaligus menjadi titik rawan
keberadaannya. Kaum sekular dan pendukung Ateis yang selama ini
tenggelam dalam kekecewaan seakan mendapatkan amunisi baru untuk
menyerang agama. Sekularisme tidak mati. Ateisme bangkit lagi. Justru
agamalah yang kini berada di ambang kebangkrutan.

Bukan Charles Darwin yang berbahaya bagi kemanusiaan dan peradaban
manusia, tapi para tokoh agama yang tak henti-hentinya mengkampanyekan
pandangan-pandangan obskurantis yang anti kemajuan dan peradaban.
Darwin tak pernah menyuruh manusia membunuh orang. Tapi, Osama bin
Laden dan Imam Khomeini jelas-jelas melakukannya. Agama bangkit bukan
untuk menebar kedamaian, tapi untuk menyeru kekerasan dan permusuhan.
Jerry Falwell, Pat Robertson, dan Billy Grahama memiliki segudang
dalil dan argumen untuk merekrut kaum Kristen menjadi tentara Tuhan.

Kemunculan buku-buku tentang Ateisme belakangan ini dipicu oleh
berbagai peristiwa kekerasan dan kebencian yang mengatasnamakan agama.
Horor 9/11, peledakan stasiun kereta di Madrid dan London, bom bunuh
diri di Timur Tengah, dan aksi-aksi kekerasan dan kebringasan lainnya
mengusik kaum Ateis untuk kembali menyuarakan keyakinan lama mereka
bahwa agama memang buruk, agama hanya menyengsarakan manusia, dan tak
ada lagi alasan manusia untuk beragama.

Pada 2005, Sam Harris, seorang mahasiswa filsafat yang tengah
merampungkan PhD-nya dalam bidang neuroscience (penelitiannya tentang
“saraf iman” dan “saraf kafir”) menerbitkan The End of Faith, sebuah
reaksi penulisnya terhadap berbagai peristiwa teror dan kekerasan yang
mengatasnamakan agama. Pesan utama buku ini adalah bahwa agama adalah
sesuatu yang terbuka untuk didiskusikan. Agama bukanlah sesuatu yang
bisa mendapat perlakuan khusus. Kekeliruan kita selama ini adalah
menganggap agama sebagai sesuatu yang istimewa sehingga selalu ada
keraguan setiap kali hendak masuk ke wilayah ini. Harris menekankan
kembali poin ini pada bukunya yang terbaru, Letter to a Christian
Nation (2006).

Pada 2006, Daniel C. Dennet menerbitkan karyanya, Breaking the Spell:
Religion as a Natural Phenomenon, sebuah buku yang berusaha menegaskan
bahwa agama adalah fenomena alam belaka. Sama seperti Harris, Dennet
berpendapat bahwa tak ada yang suci dari agama. Ia hanyalah sebuah
produk ciptaan manusia, sebagaimana manusia menciptakan bidang
ekonomi, politik, teknologi, dan bidang-bidang kehidupan lainnya.

Pada tahun yang sama, Richard Dawkins menerbitkan The God Delusion. Di
antara buku-buku sejenis, karya Dawkins ini barangkali adalah buku
yang paling menggemparkan publik pembaca. Dalam buku ini, Dawkins
berperan lebih sebagai filsuf ketimbang seorang saintis. Dia berusaha
mengerahkan seluruh energi intelektualnya untuk membuktikan bahwa
Tuhan tidak ada dan berusaha meyakinkan kita bahwa mengajarkan agama
kepada anak-anak adalah sebentuk pelecehan (child abuse). Pada
pertengahan 2007, Christopher Hitchens menerbitkan God is not Great,
sebuah buku yang memaparkan bukti-bukti tentang ketiadaan Tuhan. Lewat
pendekatan jurnalistik dan populer, Hitchens mengajak kita bahwa hidup
tanpa agama lebih sehat ketimbang hidup dengan agama.

Comments (1) »