Salam,
Menurut banyak ekonom di sini, AS sedang dalam krisis
ekonomi. Sebagian malah ada yang mengatakan bahwa
krisis saat ini adalah paling parah sejak Perang Dunia
kedua. Saya terus terang ndak paham, parah dari segi
apa, dan bagaimana. Saya awam betul mengenai bidang
ini.
Yang menarik buat saya, krisis di Amerika saat ini ada
mirip-miripnya dengan “krismon” di Indonesia pada 1997
dulu. Yaitu, dua-duanya dipicu oleh “petualangan uang”
di sektor properti. Pemicu utama krisis di Amerika
sekarang adalah karena banyak pemilik rumah tak mampu
membayar tunggakan kredit rumah mereka. Karena itu
disebut dengan “sub-prime mortgage crisis”, yakni
krisis karena hutang rumah oleh para kreditor yang
sebetulnya tak memenuhi syarat untuk memperoleh kredit
(sub-prima).
Kemiripan lain, baik krisis di Indonesia dan AS
sekarang ini memakan korban yang sama, yaitu bank.
Karena banyak pemilik rumah tak mampu membayar
tunggakan, bank-bank yang mengucurkan kresit rumah
mengalami pendarahan, baik dari segi finansial dan
kepercayaan di pasar modal.
Kemiripan lain: karena bank pada bangkrut, bank
sentral (federal reserve, istilahnya) harus turun
tangan untuk melakukan “bail out” atau pertolongan.
Kemaren, salah satu bank besar AS, Bear Stearns, baru
saja meminta pertolongan dari bank federal karena
mengalami krisis keuangan.
Kalau bank raksasa seperti Bear Stearns bisa tekena
krisis, apalagi yang lain. Ini persis dengan cerita
krismon di Indonesia: BI harus melakukan “bail-out”
yang dikenal dengan BLBI dulu. Namanya keren “Bantuan
Likuiditas Bank Indonesia’. Isinya sih sederhana: bank
minta talangan hutang karena uang yang tersimpan di
bank habis, sebab diambil kembai oleh nasabah yang
kehilangan kepercayaan.
Kemiripan lain: krisis ini tampaknya berasal dari
kecerobohan lembaga-lembaga keuangan (bukan hanya
bank) dalam menilai “worthiness” atau kelayakan
nasabah dalam menerima kredit. Saat pertama datang ke
Boston akhir 2005, saya punya kesan, semua orang
ramai-ramai beli rumah. Tentu dengan kredit. Banyak
teman Indonesia yang mendorong-dorong saya untuk beli
rumah. Perhitungannya sederhana: cicilan kredit rumah
tak beda jauh dengan biaya “rent’ atau sewa bulanan.
Daripada uang hilang untuk sewa, lebih baik untuk
nyicil rumah, karena tak hilang. Saya tak bisa
membayangkan beli rumah di AS. Huh!
Tapi, saya punya kesan bahwa saat itu memperoleh
kredit rumah begitu mudah. Istilahnya “financing”.
Saya membaca-baca berita soal krisis sekarang,
tampaknya memang dugaan saya dulu itu benar. Banyak
orang yang tak memiliki “credit history” yang memadai
bisa mendapatkan kredit rumah, karena itulah nasabah
semacam ini disebut sebagai “sub-prime”, nasabah kelas
dua.
Kenapa nasabah yang tak layak semacam ini bisa
mendapat kredit? Alasannya ternyata di luar dugaan
saya. Setelah serangan 9/11, pasar modal di AS jatuh,
dan ekonomi mengalami pelambatan. Untuk menggenjot
ekonomi biar bergerak lagi, maka salah satu jalan
adalah menggenjot konsumsi. Dengan kata lain,
menggalakkan konsumerisme. Go out and shop! Itulah
dokrtin yang dipercaya oleh pelaku ekonomi. Tentu ini
bukan satu-satunya alasan bank mengucurkan kredit
rumah. Tapi, tak salah juga jika dikatakan bahwa ini
adalah alasan penting.
Kemiripan lain yang bagi saya sangat menarik:
sebagaimana di Indonesia dulu, krisis kredit rumah di
AS ini ternyata bukan hanya gejala “lokal” yang hanya
mempengaruhi bisnis rumah, tetapi memiliki efek tular
yang meluas ke mana-mana. Dan alasannya sangat
sederhana: yaitu ekonomi sekunder. Bank-bank yang
mengucurkan kredit rumah ini kemudian melakukan apa
yang di sini disebut sebagai “sekuritisasi”, yakni
menjual hak penagihan tunggakan ke pihak ketiga, dan
pihak ketiga ini menjual lagi ke pihak lain di pasar
modal, begtu seterusnya.
Sebetulnya dalam fikih yang saya kaji di pesantren
dulu, praktek semacam ini sudah disinggung, yaitu apa
yang disebut kontrak “hawalah” atau pemindahan hak
penagihan hutang. Ada bab sediri mengenai hal itu,
“Bab al-Hiwal” atau “Bab al-Hawalah”. Dalam bahasa
modern, kata “hawalah” berubah arti menjadi “wesel”.
Saat pemilik rumah tak mampu membayar kredit, dengan
sendirinya lembaga-lembaga yang terkait dengan
sekuritisasi terkena dampak pula. Krisis ini pada
akhirnya sampai ke muaranya pula: yakni pasar modal.
Yang menarik, krisis ini membuat harga dolar melemah
di mana-mana, persis seperti rupiah dulu. Karena
banyak sekali barang kebutuhan rumah tangga yang
dikonsumsi oleh penduduk Amerika berasal dari luar,
terutama Cina, otomatis melemahnya dolar membuat
harga-harga kebutuhan rumah tangga naik. Ini tentu
memperlambat tingkat konsumsi yang merupakan “darah”
ekonomi modern di Amerika.
Menarik sekali mengamati bagaimana pemilik rumah di
sebuah kota pinggiran di Boston mampu mengguncang
pasar modal di New York, mengguncang ekonomi Amerika
hanya karena tindakan sederhana: tak membayar cicilan
rumah. Ini paralel dengan tesis Tom Friedman yang
terkenal di bukynya yang laris manis, “The World is
Flat”: salah satu ciri abad informasi saat ini adalah
munculnya individu-individu yang menjadi “super
empowered” karena teknologi informasi, kontras dengan
“super power” pada era sebelumnya yang pada umumnya
aktor-aktornya adalah negara.
Para pembela ekonomi “agama” (baca; Islam) tentunya
girang sekali melihat gejala ekonomi modern yang
menunjukkan kerentanan seperti ini. Mereka akan dengan
senang hati mengatakan bahwa ini se






rizm said,
October 11, 2008 @ 1:47 am
sebaiknya ikut prihatin dengan permasalahan ini karena efeknya akan menyebar kemana-mana jika tidak ditangani dengan serius.. sebagai pemuda, kita harus ikut berpikir mencari solusinya…dengan berpartisipasi seperti itu, kita tidak akan tumbuh menjadi generasi yang apatis….