Hari-hari akan semakin menunjukkan pada kita, antara yang beradab dan biadab,
antara yang bermartabat dan yang bejat, antara yang benar dan yang batil.
Manusia dinilai bukan dari putihnya pakaian, lebatnya jenggot, dan klaimnya atas
kebenaran. Tapi dari perbuatannya…..
Ya Allah berikan ketabahan dan kesembuhan pada saudara-saudara kami yang terluka
dan menderita akibat ulah manusia-manusia tuna susila yang bersembunyi di balik
jubah kebesaranMu.
Ya Allah, kami tuna kuasa, Engkaulah Maha Kuasa, jangan Engkau berikan kekuasaan
pada orang-orang yang telah merampas kekuasaanMu.
Ya Allah, kami tak pandai berteriak menyebut asmaMu, kami tak suka menangis di
hadapanMu, tapi kami yakin Engkau Maha Mendengar, Engkau Maha Tahu, maka
dengarkanlah kami, tunjukkanlah kami kebenaran!
Watilkal ayyam, nudawiluha bainannas….
Hari-hari akan semakin menunjukkan pada kita, antara yang beradab dan biadab,
antara yang bermartabat dan yang bejat, antara yang benar dan yang batil…






sidoel said,
June 4, 2008 @ 9:44 am
Saya sangaat berpihak pada doa ini, selamat dan terus berjuang dengan cara kita.
tofanspam said,
June 11, 2008 @ 3:57 am
bro, saya juga menyayangkan kejadian monas terjadi, tap ini juga buat kita semua mereka (FPI) melakukan ini demi menghilangkan kesesatan di umat islam di Indonesia (mungkin belum di dunia) setidaknya tidak ada yang banyak umat islam masuk ke jalur sesat sehingga mudah-mudahan indonesia tidak diberi azab oleh yang maha kuasa. bro, biar bagaimanapun yang namanya aliran sesat tidak ada dan islam tidak membenarkan……apalagi umat islam yang tahu betul bahwa itu sesat tapi malah mendukungnya dan mengakuinya malah aneh…. aneh sekali sudah tahu dia mengakui ada nabi sesudah nabi Muhammad SAW dan bukan Al-Quran kitab sucinya tapi malah ada yang mengakuinya…. aneh….. ingat mereka berkembang (aliran sesat) selama ini karena dibiarkan dan tak ada yang mengawasinya selama ini….. semoga kita tak diberi azabNya… amin
Richie Octavian said,
June 11, 2008 @ 3:49 pm
Kepercayaan atau keimanan menurut ajaran Islam dalam Ahmadiyah adalah
mutlak milik orang yang meyakininya, dan hanya Allah Ta’ala yang
berhak menghakiminya benar atau salah.
Allah Ta’ala berfirman:
“Tidak ada paksaan dalam diyn/agama (keyakinan/kepercayaan)” (2:256)
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di
muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya
mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (10:99).
“Dan katakanlah (Muhammad): “Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka
barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa
yang ingin (kafir) biarlah ia kafir…”(18:29).
Inilah asas universal kebebasan berkeyakinan dan beragama yang sudah
ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan diberikan kepada umat Nabi Muhammad
SAW untuk dijalankan selama-lamanya sejak 1500 tahun yang lalu.
Jadi, menyambung pertanyaan andai-andai Anda, maka biarkanlah orang
itu percaya atas apa yang dipercayainya (Misalnya percaya Rizieq
Syihab atau Ba’asyir terima wahyu dan sebagai nabi). Bukankah
kepercayaannya itu tidak mengganggu orang lainnya?
Dan, tidak ada sanksi yang sah dari manusia untuk manusia lainnya atas
sebuah kepercayaan. Yang berhak memberikan sanksi atas
kepercayaan/keyakinan hanyalah Allah Ta’ala.
Meneruskan pertanyaan Anda, siapkah yang disebut anggota Jemaat
Ahmadiyah, lihat saja 10 syarat bai’at yang telah ditetapkan oleh
Pendiri Jemaat Ahmadiyah sebagai berikut:
Conditions of Initiation (Bai’at) in Ahmadiyya Muslim Community
By Hazrat Mirza Ghulam Ahmad of Qadian
The Promised Messiah and Mahdi (peace be upon him)
The initiate shall solemnly promise:
I That he/she shall abstain from Shirk (association of any partner
with God) right up to the day of his/her death.
II That he/she shall keep away from falsehood, fornication, adultery,
trespasses of the eye, debauchery, dissipation, cruelty, dishonesty,
mischief and rebellion; and will not permit himself/herself to be
carried away by passions, however strong they might be.
III That he/she shall regularly offer the five daily prayers in
accordance with the commandments of God and the Holy Prophet (peace
and blessings of Allah be upon him); and shall try his/her best to be
regular in offering the Tahajud (pre-dawn supererogatory prayers) and
invoking Darood (blessings) on the Holy Prophet (peace and blessings
of Allah be upon him); that he/she shall make it his/her daily routine
to ask forgiveness for his/her sins, to remember the bounties of God
and to praise and glorify Him.
IV That under the impulse of any passions, he/she shall cause no harm
whatsoever to the creatures of Allah in general, and Muslims in
particular, neither by his/her tongue nor by his/her hands nor by any
other means.
V That he/she shall remain faithful to God in all circumstances of
life, in sorrow and happiness, adversity and prosperity, in felicity
and trial; and shall in all conditions remain resigned to the decree
of Allah and keep himself/herself ready to face all kinds of
indignities and sufferings in His way and shall never turn away from
it at the onslaught of any misfortune; on the contrary, he/she shall
march forward.
VI That he/she shall refrain from following un-islamic customs and
lustful inclinations, and shall completely submit himself/herself to
the authority of the Holy Quran; and shall make the Word of God and
the Sayings of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be upon
him) the guiding principle in every walk of his/her life.
VII That he/she shall entirely give up pride and vanity and shall
pass all his/her life in humbleness, cheerfulness, forbearance and
meekness.
VIII That he/she shall hold faith, the honor of faith, and the cause
of Islam dearer to him/her than his/her life, wealth, honor, children
and all other dear ones.
IX That he/she shall keep himself/herself occupied in the service of
God’s creatures for His sake only; and shall endeavor to benefit
mankind to the best of his/her God-given abilities and powers.
X That he/she shall enter into a bond of brotherhood with this humble
servant of God, pledging obedience to me in everything good, for the
sake of Allah, and remain faithful to it till the day of his/her
death; that he/she shall exert such a high devotion in the observance
of this bond as is not to be found in any other worldly relationship
and connections demanding devoted dutifulness.
(Translated from Ishtehar Takmeel-e-Tabligh, January 12, 1889)
Source: http://www.alislam.org/introduction/conditions.html
Salam,