Manipulasi dalam pencitraan FPI vs AKKBB

Belakangan ini, sejumlah pihak/media berusaha membangun/merekonstruksi
gambaran tentang penyerangan FPI atas Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan
Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dengan cara manupulatif. Gambaran yang
dibangun adalah:

1. FPI memang melakukan kekerasan tetapi itu terjadi karena diprovokasi
oleh AKKBB yang secara demonstratif menantang umat Islam.
2. FPI memang melakukan kekerasan fisik tetapi sebenarnya yang selama ini
terjadi adalah kekerasan verbal oleh kalangan AKKBB yang menguasai media.
3. FPI memang melakukan kekerasan tapi ini terjadi karena akar masalahnya
tidak kunjung terselesaikan, yakni soal Ahmadiyah.

Gambaran semacam itu manipulatif dan dapat menyesatkan cara pandang umum
tentang apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa gambaran manipulatif itu
dibangun oleh tokoh dan media yang menyebut dirinya ‘Islam’ menjadi
penting karena terkesan bahwa dengan demikian, dalam Islam berbohong demi
tujuan adalah suatu hal yang dibenarkan.

Penjelasan saya soal manipulasi itu adalah sebagai berikut:

Pertama, apa yang dilakukan AKKBB dengan membuat iklan satu halaman penuh
di berbagai media plus unjuk rasa di Monas memang demonstratif untuk
menandingi apa yang dipercaya sebagai gelombang besar gerakan radikalisme
Islam. Tentu saja pernyataan sikap itu harus dinyatakan secara mencolok
karena yang ditentang adalah kekuatan besar yang melibatkan tak kurang
dari Majelis Ulama Indonesia, FPI, FUI, GUUI, HTI, dan lain-lain. Jangan
lupakan di sejumlah daerah, tindakan anarkis terhadap Ahmadiyah sudah
terjadi. Jangan lupa pula, MUI dan kawan-kawan sedang terus mendesak
pemetintah untuk segera mengeluarkan SKB pembubaran Ahmadiyah yang menurut
sejumlah ahli hukum sendiri sebenarnya tidak dikenal dalam struktur hukum
ketatanegaaan kita.

Jadi, sikap demonstratif AKKBB adalah sikap yang memang sengaja dilakukan
untuk mencegah penindasan atas kebebasan beragama dan berkeyakinan –
sesuatu yang memang menjadi alasan pendirian AKKBB. Aliansi ini percaya
bahwa mereka harus bersuara keras karena lawannya memang besar. ernyataan
sikap semacam itu tentu saja tidak bisa dibaca sebagai ‘provokasi’ untuk
mengundang pihak lain melakukan tindakan brutal.

Kedua, penggunaan istilah kekerasan verbal oleh AKKBB tentu saja
manipulatif karena yang selama ini menggunakan kekerasan verbal adalah
justru MUI, FPI dan kawan-kawan. Bukankah selama istilah yang digunakan
untuk merujuk pada mereka yang dianggap berpikiran liberal dan pluralis
adalah: ”SEPILIS”, Jaringan Iblis Laknatullah, Budak Kafir, Antek Yahudi,
Antek Amerika, Sesat dan Menyesatkan, Murtad, Halal Darahnya, dst?
Kekerasan verbal apa lagi yang bisa lebih buruk dari itu? Pernahkah
kawan-kawan AKKBB menggunakan istilah serupa?

Gambaran bahwa AKKB itu menguasai media juga jauh dari kebenaran.
Pengamatan sederhana menunjukan bahwa dalam perdebatan pro dan anti
Ahmadiyah saja sudah terlhat bagaimana media mainstream menghindar dari
pembelaan terhadap Ahmadiyah, karena takut pada FPI dkk atau karena
sejumlah awak redaksi mereka memang percaya bahwa Ahmadiyah itu sesat.
Bahwa dalam kasus penyerangan oleh FPI terhadap AKKB ada kesan bahwa
umumnya media (kecuali Republika tentunya) menempatkan FPI sebagai pihak
yang menyerang, tentu saja karena apa yang terjadi di lapangan memang
begitu (kecuali Anda percaya dengan cerita seorang personil AKKBB yang
memang membawa senjata untuk menembaki FPI?).

Ketiga, penempatan soal ’Ahmadiyah’ sebagai akar masalah, tentu saja
adalah taktik yang licik untuk membelokkan isu ke arah pembubaran
Ahmadiyah. Isu Ahmadiyah adalah isu perbedaan pendapat antara dua kubu
pemikiran yang lazim terjadi dalam suatu masyarakat demokratis. Perbedaan
pendapat sama sekali tidak boleh menjustifikasi kekerasan. Memang
pemerintah terkesan lamban, tapi selama pemerintah belum menyatakan sikap
baru, sikap lama harus diasumsikan berlaku. Dalam hal ini, sejauh ini,
pemerintah masih percaya bahwa Ahmadiyah adalah sebuah ajaran, keyakinan
dan organisasi yang sah di Indonesia. Pernyataan Bakor Pakem itu baru bisa
dilihat sebagai rekomendasi. Tidak lebih.

Karena itu, istilah ’akar masalah’ itu harus diperinci maknanya. Dalam
cara pandang yang lebih luas, bagi saya, akar persoalan adalah kesediaan
kita untuk hidup dalam sebuah masyarakat demokratis. Kalau setiap kali
kita berbeda pendapat, salah satu pihak merasa dibenarkan untuk melakukan
kekarasan atas pihak lain, kita berada dalam sistem yang setiap saat bisa
runtuh karena perbedaan pendapat. Jadi, akar masalahnya justru masih
adanya budaya kekerasan di kalangan Islam radikal. Karena itu, bagi saya,
akar masalah bukan pada Ahmadiyah – yang sepajang sejarah republik tidak
pernah melakukan kekerasan — melainkan pada (kalau mau tunjuk hidung)
FPI, GUUI, dan FUI. Selama organisasi-organisasi ini masih ada, kekerasan
akan terus berlanjut.

Salam

2 Responses so far »

  1. 1

    Abdullah said,

    June 5, 2008 @ 12:22 pm

    bismillahi rahman ni rahim.

    izinkan saya menyampaikan keterangan mengenai kejadian monas.
    saya mendapatkan tulisan ini dari thread yg terdapat pada website kaskus.
    mohon maaf jika tidak berkenan.

    Untuk menyakinkan tulisan ini, saya perlu memperkenalkan diri dulu,nama Saya adalah Nong Darol Mahmada, saya salah seorang aktivis Jaringan Islam Liberal dan saya aktif di JIL sejak berdirinya JIL. Dalam kesempatan sekarang izinkan saya memberikan kesaksian kepada kawan-kawan sebangsa dan setanah air melalui milis ini kejadian sebenarnya dibalik kejadian yang terjadi di Monas pada tanggal 1 Juni yang lalu.

    Perlu kawan-kawan ketahui bersama bahwa aksi ini merupakan aksi yang telah di skenariokan oleh pihak pemerintah untuk mengalihkan isu BBM yang sedang marak ditengah masyarakat. Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Beryakinan (AKK BB) hanya dijadikan kedok saja untuk mencegah agar ajaran Ahmadiyah tidak dibubarkan. Setelah presiden SBY menaikan harga BBM, kalangan kontributor JIL Goenawan Mohammad, Hamid Basyaib, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Nasaruddin Umar melakukan pertemuan secara diam-diam di kediaman SBY di Cikeas, Bogor. Hal ini mereka bisa akses langsung kedalam berkat orang dalam yaitu Andi Malarangeng yang notabene kakak kandung dari Rizal Mallarangeng.

    Dalam pertemuan ini membahas isu yang berkembang di tengah masyarakat mengenai aksi demo-demo yang dilakukan adek-adek mahasiswa. Lalu SBY selaku presiden dan kepala pemerintah meminta kalangan JIL mengalihkan isu yang sedang berkembang di masyarakat dengan isu lain. Rizal M, yang merupakan pemuda JIL yang cerdas memberikan usul bagaimana isu kenaikan BBM yang sekarang ini diupayakan diganti dengan isu membubarkan Front Pembela Islam (FPI) dengan mengangkat isu pembubaran ajaran Ahmadiyah. Karena selama ini JIL selalu mendapatkan perlakuan keras dari FPI.

    Lalu setelah mendapatkan ‘restu’ dari presiden Goenawan Mohammad, Hamid Basyaib dan Rizal Mallarangeng datang ke markas JIL di Jl. Utan Kayu No. 68 H Utan Kayu. Di Kedai Tempo mereka membahas bagaimana membuat skenario agar anggota FPI bisa melakukan tindakan anarkis dan perusakan yang membuat masyarakat tidak simpati lagi dengan FPI. Lalu setelah melakukan diskusi selama 3 jam, ketiga kontributor JIL itu akhirnya berhasil membuat skenario yang bagus, dengan memanfaatkan momentum kelahiran Pancasila pada tanggal 1 Juni, mereka akan membuat semacam aksi simpatik (damai) dalam kebebasan beragama dan
    berkeyakinan. Aksi ini dilakukan di Monas, yang mana para peserta yang hadir sudah disetting sedemikian rupa agar anggota FPI turut datang dan membubarkan asyik tersebut. Mereka sangat paham betul, bahwa massa FPI sangat mudah sekali untuk dipancing agar melakukan kekerasan dan pengerusakan.

    Setelah membuat skenario tersebut lalu Goenawan Mohammad, menghubungi SBY melalui ponselnya, setelah mendengar penjelasan dari Goenawan Mohammad secara terperinci, akhirnya presiden menyetujui aksi tersebut dan akan mentrasferkan dananya sebesar 10 miliard rupiah untuk melancarkan aksi tersebut.

    Malam sebelum kejadian, beberapa pentolan JIL berkumpul di markas JIL, termasuk saya sendiri. Waktu itu yang hadir sangat ramai sekali dan sedang membahas persiapan untuk aksi besok pagi. Dari beberapa kawan-kawan yang diberikan tugas juga sudah selesai menjalankan tugasnya seperti mengundang kalangan pers media cetak dan media elektronik untuk hadir di acara tersebut. Orang-orang Ahmadiyah pun bersedia mengerahkan beberapa massanya untuk menghadiri aksi damai besok. Begitu juga dengan FPI, sudah dikontak melalui SMS membuat isu kalau besok jamaah Ahmadiyah, akan menggelar aksi damai di silang damai. Saya tidak tahu bagaimana persiapan dari FPI untuk merespon isue tersebut, tetapi nyatanya besok pagi ketika aksi damai itu sedang berlangsung dengan membawa nama AKKBB FPI datang dengan belasan truk dan ratusan anggotanya melakukan pemukulan kepada anggota aksi tersebut. Yang akhirnya terjadi aksi kekerasan tersebut. Hal ini yang diketahui dikalangan anggota FPI adalah aksi tersebut adalah aksi yang dilakukan umat Ahmadiyah sehingga secara kasar dan memaksa membubarkan aksi tersebut. Dari pemaparan dalam tulisan saya disini harus kawan-kawan milis ketahui bahwa,

    1. Bahwa aksi kekerasan yang terjadi di Monas itu merupakan suatu skenario yang dilakukan pemerintah dan pihak JIL untuk mengalihkan isu BBM.

    2. Aksi yang terjadi di Monas itu, JIL ingin FPI dibubarkan karena selama ini FPI merupakan yang menjadi sandungan kalau JIL melakukan aksi.

    3. Dari jamaah Ahmadiyah dengan aksi ini, diharapkan mendapatkan simpati dari masyarakat Indonesia agar organisasi ini tidak jadi dibubarkan.

    4. Kalangan petinggi JIL telah sekian kalinya, mendapatkan keuntungan untuk memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada.

    Demikian tulisan ini saya buat dengan sebenarnya, karena hal ini yang membuat saya selalu merasa bersalah dan berdosa telah bersama-sama dengan kawan-kawan JIL melakukan pemutaran balikan fakta. Saya harap kawan-kawan setanah air dan sebangsa mau menyebarkan email kekawan-kawan sekalian. Terima kasih.

    Salam

    Nong Darol Mahmada
    nong@isai.or. id

    http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080604033625AA1sM4u

    http://www.kaskus.us/showthread.php?t=893851

  2. 2

    Rial said,

    June 24, 2008 @ 5:51 am

    Akh abdullah,syukron sdh menguraikan hal itu.

    Si pemilik blog klhtnx bgtu benci ìslam,jd stiap ucpanx penuh dgn kbencian dgn islam.brbicra dgn emosi,tnpa melhat hal yg sbnarx.
    Allahu a’lam

    Allah akn menylamatkan agama yg diridhoi-NYA.

Comment RSS · TrackBack URI

Say your words